ISLAM ANTI-KEGEMUKAN (1)

Grafik penderita kegemukan

Grafik penderita kegemukan terus meningkat tiap tahun. Agama punya peran penting dalam menjaga kesehatan. sumber foto : google

Berawal dari ketidakseimbangan antara asupan dan keluaran energi sehingga terjadi kelebihan energi yang disimpan dalam bentuk jaringan lemak, situasi kegemukan, yang juga sering disebut obesitas (obesity), perlahan tapi pasti selanjutnya terjadi. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa kegemukan telah menjadi masalah epidemic dunia. Situasi tersebut tentunya sangat penting untuk diwaspadai. Selain karena mengganggu estetika, sejak 18 Juni 2013, Asosiasi Medis Amerika Serikat mendeklarasikan situasi ini sebagai penyakit yang acap kali berujung pada kematian. Mengutip Lew & Gar Finkel (1979), Hamam Hadi dalam Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar di Fakulatas Kedokteran Universitas Gadjah Mada pada tanggal 5 Februari 2015 di Yogyakarta, menyatakan, orang yang mempunyai berat badan 40% lebih berat dari berat badan rata-rata populasi, mempunyai risiko kematian 2 kali lebih besar dibanding orang dengan berat badan normal.

Kenaikan mortalitas diantara penderita kegemukan merupakan akibat dari beberapa penyakit yang mengancam kehidupan seperti diabetes tipe dua, penyakit jantung, penyakit pembuluh darah, penyakit kandung kemih, kanker gastrointestinal, dan kanker yang sensitif terhadap perubahan hormon. Disamping itu, orang kegemukan juga mempunyai risiko yang lebih besar untuk menderita beberapa masalah kesehatan seperti back pain, arthritis, infertilitas, dan fungsi psikososial yang menurun. Kondisi seperti ini tentu menimbulkan kerugian, seperti menggerogoti situasi ekonomi, baik rumah tangga maupun negara. Maka beragam cara untuk menanggulanginya mulai tampak dijajakan, terutama di kota-kota besar. Menjamurnya pusat-pusat kebugaran, salon kecantikan “plus” dan pengobatan alternative yang saling berlomba menawarkan berbagai cara yang cepat dan murah untuk menurunkan berat badan, merupakan salah satu indikasinya. Iklan-iklan ditelevisipun juga ikut menyemarakkan suasana. Beragam alat kebugaran, serta produk penghilang lemak bermunculan setiap harinya. Jika memasuki toko-toko buku, rak yang berisi deretan buku-buku tentang diet, selalu ada disana.

Pertanyaannya, apakah kemudian angka penderita kegemukan mengalami penurunan? Walau sesungguhnya masuk logika jika jawabannya “ya”, pada kenyataanya, prevalensi kegemukan dari waktu ke waktu justru mengalami peningkatan. Mengeram masalah kegemukan ternyata tak segampang membalik telapak tangan. Bukan hanya lantaran masih sedikitnya kesadaran masyarakat, bahkan, sebagaimana diungkap Ian Campbell, ketua National Obesity Forum, Amerika Serikat banyak dokter yang belum menerima atau mengerti bahwa kegemukan termasuk salah satu penyakit serius, tapi juga lantaran upaya untuk mencegah dan menanggulanginya memang diperlukan kedisiplinan dan kesabaran yang tinggi. Boleh jadi sebab menyangkut gaya hidup dan sifatnya seumur hidup, banyak orang yang kurang tahan menjalaninya.

Agar orang senantiasa memiliki kemauan serta terus berupaya mengontrol berat badan, perlu dipikiran cara lain yang akan membuatnya tahan serta menjalankan apa-apa yang mestinya dilakukan dengan senang.

PERAN AGAMA

“Menurut prediksi para futurology, selain kemajuan teknologi informasi yang luar biasa, abad 21 juga ditandai oleh kebangkitan spiritualisme,” tulis Dr. Abdul Mu’ti, Sekretaris PP Muhammadiyah, di laman Rakyat Merdeka Online. Kehidupan yang serba materi, ternyata tidak mampu membawa manusia meraih kebahagiaan hakiki. Berbagai penelitan menunjukkan betapa manusia modern mulai mendamba kedamaian spiritual. Dalam kegalauan dan kegelisahan, manusia tidak bisa membeli kebahagiaan dari narkoba, dugem, dan kamuflase dunia hiburan lainnya. Maka, iman yang kuat, bukan hanya membawa manusia pada kebahagiaan di kehidupan selanjutnya, melainkan juga berfungsi sebagai penghibur dikala duka serta sumber kekuatan saat batin terluka.

Hebatnya, beberapa penelitian mendapati juga, ternyata agama bisa diandalkan untuk membantu menyembuhkan penyakit, termasuk memperpanjang usia manusia. Tidak salah rasanya jika Snyderan (1996), sebagaimana dikutip Hawan (2011), menyatakan,”Terapi medic saja tanpa disertai dengan agama (berdoa dan berdzikir), tidaklah lengkap; sebaliknya agama saja tanpa disertai dengan terapi medic, tidaklah efektif.”

  • Laman tempo.co, edisi 02 November 2011 mencatat hasil beberapa penelitian tentang keunggulan agama kesehatan manusia. Di antaranya:
  • Study University of Toronto Scarborough menemukan bahwa memikirkan tentang Tuhan dapat membantu mengurangi rasa cemas.
  • Penelitian para ahli dari University of Wsconsin Madison yang dilakukan pada 2010 menemukan bahwa berdoa atau sembahyang bisa menjadi “gangguan” positif dan sebuah cara bagi orang-orang untuk mengatasi situasi yang sulit, termasuk penyakit yang dideritanya.
  • Hasil riset di University of Piitsburgh Medical Center, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa orang yang rajin dan rutin mengikuti kegiatan keagamaan secara berkala akan hidup lebih lama ketimbang mereka yang tak pernah aktif di tempat ibadah.

Mengingat “kesaktian” nya itu, tidak berlebihan rasanya jika WHO kemudian menjadikannya sebagai salah satu komponen yang mesti dimiliki orang sehat. Rumusan sehat yang semula Bio-Psiko-Sosial (BPS) telah berubah menjadi Bi-Psiko-Sosial-Spiritual (BPSS).

Sumber : Buku “Diet Islami” Karya Yuga Pramita

Tolong Bagikan Artikel Ini Jika Menurut Anda Bermanfaat...
  • Twitter
  • Facebook
  • email
  • vuible
  • StumbleUpon
  • Delicious
  • Google Reader
  • LinkedIn
  • More

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *