Mengenal Penyakit Kegemukan / Obesitas Secara Lebih Dekat

kegemukan atau obesitas

Pahami penyakit kegemukan atau obesitas secara lengkap. Sumber foto : google

Penyakit Obesitas

Pada umumnya setiap orang mendambakan bobot badan yang ideal, apalagi bagi seorang wanita. Namun, tidak sedikit wanita yang memiliki masalah kegemukan hingga masalah obesitas. Bahkan, obesitas merupakan masalah yang mendunia temasuk di Indonesia. Yuk, kita pahami kegemukan (obesitas) secara lebih mendalam.

Angka kejadian obesitas terus meningkat dari tahun ke tahun. Laporan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2003 menyebutkan bahwa lebih dari 300 juta orang dewasa di dunia menderita obesitas. Bahkan, sebanyak 280.000 orang di Amerika meninggal dunia akibat obesitas setiap tahunnya. Diperkirakan 10 dari 100 penduduk di Jakarta (10%) menderita obesitas. Parahnya lagi, obesitas biasanya dapat memicu terjadinya penyakit lain seperti: penyakit jantung, arthritis, diabetes melitus tipe 2, hingga hipertensi.

Orang-orang dengan permasalahan obesitas cenderung disalahkan oleh masyarakat sebagai orang yang tidak memiliki semangat yang kuat untuk menurunkan bobot badan. Selama ini, faktor-faktor yang dianggap sebagai penyebab obesitas antara lain pola makan yang salah, kurang olahraga, kelainan metabolisme, dan faktor genetika. Sering muncul pertanyaan, mengapa sama-sama makan tetapi ada yang gemuk dan ada yang tidak gemuk? Definisi gemuk menurut banyak orang adalah banyaknya lemak yang tertimbun di dalam tubuh sehingga membuat tubuh terlihat tidak indah. Kelebihan berat badan dan kegemukan (obesitas) adalah dua kata yang sering diucapkan saat ada seseorang yang menimbang bobot badan dan tidak sesuai dengan perhitungan rumus yang ada. Kelebihan bobot badan dapat sangat mengganggu penampilan bagi sebagian orang. Meskipun demikian, sebagian orang yang lain tetap berpedoman pada slogan “big is beautiful” atau “gemuk itu indah”.

Sekarang ini, banyak ditawarkan berbagai teknik pelangsingan tubuh, mulai dari jamu gendongan, terapi pelangsingan tubuh hingga operasi sedot lemak. Tetapi demikian, banyak juga yang tidak berhasil. Hal ini dikarenakan kegemukan merupakan masalah yang rumit. Fenomena ini menunjukkan besarnya masalah kegemukan di masyarakat. Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengurangi kelebihan bobot badan, diantaranya pemanfaatan bahan kimia sintetik untuk meningkatkan kemampuan aktivitas tubuh, olahraga secara teratur, pengaturan makanan, dan pemanfaatan bahan alam dari tumbuh-tumbuhan. Pengaturan pola makan dapat menyingkirkan lemak sepanjang kita terus berusaha mempertahankannya.

Pasalnya, kegembiraan karena telah berhasil mencapai bobot badan yang ditargetkan dapat membuat kita lupa akan perjuangan yang telah dilakukan. Menurut Dr. A.J Houtsmuller, seorang diabetolog dari Universitas Erasmus, Belanda, menyatakan ketidaksetujuannya jika seseorang yang sedang menjalani diet untuk mengurangi bobot badan dengan meminum sari buah di luar jam makan. Meskipun kita harus mengkonsumsi buah dan sayuran sebanyak – banyaknya, tetapi harus selalu dalam jam makan, baik makan pagi, siang maupun malam. Sari buah yang dimasukkan ke dalam perut kosong di luar acara makan akan mengalir seperti kereta api ekspres supercepat, yang dalam waktu 10 menit sudah menembus dinding usus untuk masuk lever.

Dengan demikian, lever secara tiba – tiba menerima kalori dalam jumlah banyak yang dengan cepat akan diubahnya menjadi lemak. Lemak ini dilepas diam-diam pada waktu malam untuk ditimbun di dalam jaringan tubuh. Hal semula yang diniatkan untuk menurunkan bobot badan, justru mempertahankan kegemukan. Sekaligus berbahaya jika kemudian disusul dengan giat berdiet mengurangi asupan gizi. Cepat atau lambat, kita akan kehilangan kewaspadaan dan kembali pada kebiasaan makan yang lama.

Hal ini tidaklah mengagetkan karena kita memiliki kebiasaan dan mencari kepuasaan sesaat. Ketika bobot badan kembali naik maka kita merasa kecewa dan putus asa sehingga terjerumus dalam “siklus yoyo”. Kondisi makan banyak dan kelaparan terjadi silih berganti. Alhasil, badan kita menjadi lebih gemuk dari sebelumnya. Hal inilah yang melahirkan aggapan salah bahwa diet justru membuat kita gemuk. Padahal, pendapat ini tidak benar. Kegagalan menurunkan bobot badan secara permanen karena kesalahan memilih metode sehingga saat lapar menyerang akan terbayang makanan kegemaran dan berakhir pada godaan makan yang semakin ditolak.

Rasa rendah diri dan sadar bahwa upaya yang dilakukan tidak akan pernah berhasil semakin menuntun Anda pada kegagalan. Kita harus menggunakan lebih banyak energi dalam tubuh yang berasal dari makanan yang kita konsumsi dengan melakukan aktivitas seperti olahraga agar bobot badan turun. Selain itu, harus berhati – hati dengan makanan yang dikonsumsi, menghindari camilan lezat, serta mengurangi makanan manis dan berlemak. Meskipun demikian bagi orang yang melakukan diet ketat sedikit sekali pengaruhnya.

Beberapa penelitian dilakukan lebih lanjut untuk mencari faktor di luar pola makan yang menyebabkan penimbunan lemak. Karena itu ada temuan terbaru yang menyatakan bahwa susunan gen menjadi penyebab 80% variasi kandungan lemak tubuh yang berbeda pada setiap orang.

Penyebab Obesitas (Kegemukan)

Kejadian obesitas bukan disebabkan oleh faktor tunggal. Melainkan akibat dari beberapa faktor penyebab yang saling berkolaborasi, mulai dari faktor diri sendiri, faktor lingkungan, dan adanya penyakit. Ada banyak pendapat mengenai penyebab terjadinya kegemukan. Pembahasan saat ini akan kita lihat dari beberapa sisi mulai dari faktor penyebab dari diri sendiri (faktor genetik, faktor pola hidup, dan faktor psikologi), pengaruh lingkungan, dan adanya penyakit tertentu. Ketiga faktor tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama lain karena ketiganya saling terkait dan saling mempengaruhi. Pembahasan di bawah ini akan melihat pengaruh setiap faktor yang mempengaruhi kejadian kegemukan.

A. Berasal dari Diri Sendiri

a. Faktor Genetik

Faktor genetik merupakan faktor keturunan yang berasal dari orang tua. Pengaruh faktor tersebut sebenarnya belum terlalu jelas sebagai penyebab kegemukan. Meskipun demikian, ada beberapa bukti yang menunjukan bahwa faktor keturunan merupakan faktor penguat terjadinya kegemukan.

Seorang peneliti gizi di USA melaporkan bahwa anak – anak dari orang tua dengan bobot badan normal mempunyai peluang 10% menjadi gemuk. Jika salah satu orang tuanya mengalami kegemukan, peluang itu meningkat menjadi 40 – 50 %. Sementara itu, jika kedua orang tuanya mengalami kegemukan maka peluang faktor keturunan meningkat menjadi 70 – 80%. Pengaruh faktor keturunan tampak semakin jelas jika didukung faktor lain seperti faktor pola makan dan pola hidup.

Pada sejumlah orang dengan kelebihan bobot badan ditemukan satu faktor keturunan yang mempengaruhi penggunaan kalori oleh tubuh mereka, terutama jika asupan makanan dikurangi. Hal ini terjadi setelah mereka tidak makan selama dan menerima asupan kalori kurang dari jumlah minimal dalam jangka waktu yang lama. Total energi 1.000 sampai 1.200 kalori per hari untuk perempuan dan 1.200 sampai 1.500 kalori per hari untuk laki-laki.

Pada kondisi ini, kita menggunakan sekitar 60% energi dalam tubuh untuk menjaga fungsi – fungsi penting agar tetap berjalan. Hal ini disebut dengan laju metabolik basal (basal metabolic rate atau BMR) orang dengan ukuran duduk hanya menggunakan 20% energi untuk aktivitas fisiknya. Sementara itu, jika seseorang semakin aktif secara fisik dan berolahraga secara teratur maka nilai BMR bisa ditingkatkan.

Saat tubuh merasakan lapar, maka persiapan dilakukan untuk menghadapinya. Tubuh Anda akan mempertahankan simpanan lemaknya serta menggunakan energi yang berasal dari makanan yang kita konsumsi untuk menghasilkan panas, mencerna, dan melakukan fungsi – fungsi penting lainnya sehemat mungkin.

Pada sejumlah orang dengan kelebihan bobot badan, sifat turunan tersebut membuat mereka jauh lebih sensitif terhadap berkurangnya asupan makanan dibandingkan dengan orang lain. Metabolisme mereka sensitif mengalami perlambatan setiap kali mencoba mengurangi makanan. Dengan demikian orang tua yang menderita kegemukan akan mempunyai kecenderungan untuk melahirkan bayi obesitas atau gemuk.

Parahnya lagi, jika seseorang pada masa bayi atau masa anak – anak sudah menderita kegemukan, setelah dewasa akan sulit menjadi lebih ramping. Hal ini disebabkan kegemukan pada masa anak-anak akan membentuk sel lemak tubuh yang jumlahnya melebihi sel normal atau sering disebut “ Obesitas Hiperplastik”. Sementara itu, kegemukan yang terjadi akibat pembesaran ukuran sel lemak pada masa dewasa disebut “ Obesitas Hipertropik”. Dengan demikian, kegemukan pada saat dewasa masih berpeluang lebih besar untuk normal kembali. Asalkan memiliki semangat dan kedisiplinan yang tinggi untuk menurunkan bobot badanya. Upaya paling efektif untuk mencapai tujuan tersebut adalah kombinasi antara pengaturan makan, meningkatkan aktivitas tubuh, dan beristirahat.

b. Faktor Pola Hidup

Jika semua aktivitas sehari – hari, baik bekerja, makan, tidur, dan olah raga dijalankan secara seimbang maka akan tercipta kehidupan yang sehat. Sebaliknya saat terjadi ketimpangan, metabolisme tubuh akan membuat pola yang disesuaikan dengan kebiasaan yang dilakukan setiap harinya. Kebiasaan dan kesukaan mengkonsumsi makanan berlemak dan gula berlebih akan membiarkan mulut terus mengunyah, lambung terus menampung, dan usus terus bekerja sehingga proses metabolisme di dalam hati menyimpan lemak dalam jumlah cukup banyak.

Makanan penyebab penyimpanan lemak tersebut bisa didapatkan dari makanan siap saji, seperti fried chicken, hamburger, atau pizza. Kebiasaan “mengemil” juga berpengaruh terhadap menumpuknya lemak di dalam tubuh. Makanan kecil yang dikonsumsi di luar waktu makan biasanya tinggi kalori, berasa gurih, manis, dan proses pembuatannya dengan cara digoreng. Jika tidak terkontrol bisa menyebabkan kegemukan.

c. Faktor Psikologi

Sejak beberapa tahun lalu, faktor psikologi diduga menjadi penyebab utama terjadinya obesitas. Menurut teori yang cukup populer, orang – orang yang kelebihan bobot badan adalah meraka yang tidak sensitif terhadap sinyal – sinyal internal untuk merasakan kelaparan dan kekenyangan. Pada waktu yang bersamaan, mereka juga sangat sensitif terhadap rangsangan luar ( penglihatan, penciuman, dan pencicipan) yang dapat meningkatkan nafsu makan.

Sebuah studi telah dilakukan untuk mengkaji pengaruh menonton televisi terhadap obesitas yang dilakukan terhadap 4.771 wanita dewasa ini menunjukan bahwa mereka yang mengaku menonton televisi selama 3 jam atau lebih dalam sehari akan mengalami obesitas dua kali lebih besar dibandingkan merka yang hanya menonton televisi selama kurang dari 2 jam sehari. Hasil dari studi tersebut menunjukan bahwa mononton televisi merupakan salah satu sumber eksternal yang sangat terkait dengan kejadian obesitas. Penelitian tersebut sama dengan teori psikologis yang menyatakan bahwa televisi dapat meningkatkan sensitifitas terhadap rangsangan internal. Sekaligus menurunkan efektivitas fisik dan metabolisme tubuh. Hasil lain juga didapatkan bahwa pada orang yang keranjingan menonton televisi cenderung malas melakukan senam.

Seseorang yang sedang mengalami keadaan yang tidak menyenangkan akan tampak lebih emosional, baik dari segi sikap atau perilaku. Jika hal tersebut berlangsung lama akan menyebabkan stress dan depresi. Kedua hal tersebut akan meningkatkan sekresi hormon sebagai suatu tanggapan terhadap keadaan psikologis. Sehingga terjadi peningkatan metabolisme energi yang dipecah dan digunakan untuk melakukan aktivitas fisik.

Proses ini menyebabkan glukosa darah menurun sehingga menimbulkan rasa lapar. Jika rasa lapar ini dipenuhi terus – menerus, tetapi tidak melakukan aktivitas fisik yang membakar energi, maka kelebihan energi tersebut akan disimpan sebagai lemak dalam tubuh.

B. Faktor Lingkungan

Cherie Bennett, seorang penulis novel “Life in the Lane” berkisah tentang Lara, siswi sekolah menengah atas yang memenangkan kontes kecantikan dan memiliki pacar keren. Dalam beberapa bulan, bobot badanya melonjak hampir dua kali lipat dari bobot sebelumnya. Kelak Lara mengakui, ia depresi karena orang tuanya selalu menuntut untuk tampil langsing dan cantik.

Dari cerita di atas menggambarkan bahwa tuntutan lingkungan sangat mempengaruhi Lara. Ide penulisan ini muncul karena banyaknya surat yang masuk karena Overweigh. Ternyata tidak selesai dengan Overweigh, ada orang yang punya ritual muntah bersama di toilet supaya bobot badan mereka terjaga. Namun, sekali lagi ini bukan pemecahan menuju bobot badan yang ideal.

Waktu terus berjalan, budaya dalam kehidupan menusia bisa sangat memengaruhi pola hidup. Tidak lepas dari kebiasaan yang banyak dilakukan orang. Mengonsumsi makanan yang tidak sehat atau liburan akhir pekan ke mall yang banyak menyediakan makanan tidak sehat, seperti burger pizza, ayam goreng, dan es krim. Pola hidup ini sepertinya sudah membudaya. Parahnya lagi, para remaja dan pemuda yang nantinya menjadi penerus generasi yang sehat telah memulai menghancurkan dirinya dengan budaya makan di mall. Makanan yang tersedia di mall cenderung junk food yang berkalori tinggi yang berasal dari kerbohidrat dan lemak. Keadaan inilah yang menyebabkan kenaikan bobot badan relatif lebih cepat.

C. Penyakit Tertentu

Terjadinya obesitas ternyata disebabkan juga oleh adanya penyakit, seperti hipotirodisme, sindrom cushing, kelainan hipotalamus, dan beberapa sindroma genetik (penyakit bawaan). Obesitas yang timbul karena penyakit – penyakit tersebut menyebabkan perubahan keseimbangan hormonal dalam tubuh yang pada akhirnya menyebabkan penimbunan lemak di dalam tubuh. Berikut beberapa penyakit yang dapat menyebabkan obesitas.

Inveksi virus

Penemuan Dr.Nikhil Dhurandhar dari University of Wisconsin, Madison berhasil membuka misteri lain di luar faktor genetik yang selama ini dituduh menjadi penyebab utama obesitas. Ternyata obesitas merupakan suatu penyakit yang diakibatkan penumpukan lemak dalam tubuh sehingga disebut dengan virus lemak atau fat virus.

Virus lemak pertama kali ditemukan pada ayam. Ayam yang terinfeksi virus lemak lebih gemuk dibandingkan dengan ayam yang tidak terinfeksi. Hal lain yang mengherankan adalah kadar kolestrol dan trigliserida dalam darahnya lebih rendah dibandingkan dengan ayam dengan bobot badan normal. Keadaan serupa juga terjadi pada manusia yang terinfeksi virus lemak.

Saat infeksi terjadi, virus lemak menyebar ke dalam darah dan sel – sel lemak, kemudian virus memicu sel – sel lemak untuk mengambil kolestrol dan trigliserida dari dalam darah sehingga terjadi penumpukan pada sel – sel lemak. Itulah sebabnya pada orang yang terinfeksi virus lemak memiliki kadar kolestrol dalam darah lebih rendah dari pada orang normal. Penemuan ini telah dipublikasi di international Journal Of Obesity tahun 2000.

Kaitan Antara Mikroorganisme dan Penyakit

Penemuan – penemuan terakhir yang mengherankan adalah adanya kaitan antara mikroorganisme (bakteri, cendawan, virus) dengan terjadinya beberapa penyakit. Hal – hal yang semula dianggap tidak berkaitan dengan infeksi sekarang mulai terlihat berhubungan. Sebagai contoh bakteri Chlamidia pneumoniae yang sebelumnya diketahui hanya menyebabkan infeksi saluran pernapasan ternyata juga dapat mengakibatkan penyakit jantung begitu pula dengan cytomegalovirus (CMV). Contoh lain adalah sakit maag yang selama ini dikenal disebabkan oleh stres, makanan pedas, atau produksi asam lambung yang berlebih ternyata diakibatkan oleh bakteri Helicobacter pylory. Bahkan infeksi bakteri ini juga bisa mengakibatkan kanker lambung.

Penelitian terakhir menunjukan hasil bahwa infeksi bakteri Clostridium tetani berperan penting mengakibatkan terjadinya autisme. Artinya, penyakit – penyakit yang selama ini diduga berhubungan dengan faktor fisiologi atau metabolisme tubuh ternyata diakibatkan oleh infeksi mikroorganisme. Apabila nanti telah terbukti sebagian besar obesitas diakibatkan infeksi virus lemak, maka tantangan ke depan yang perlu dilakukan adalah mendesain vaksin untuk mengatasi serangan virus lemak.

Akibat Kegemukan

Hingga saat ini masih menjadi perdebatan bahwa obesitas dikatakan sebagai suatu penyakit. Alasan yang paling masuk akal adalah karena kegemukan dapat menimbulkan komplikasi dan banyak akibat buruk yang ditimbulkannya. Penyimpanan lemak di dalam tubuh (adiposit, kegemukan) ternyata bukan merupakan hasil dari kebiasaan buruk yang bersifat pasif seperti yang diduga sebelumnya. Ternyata adiposa berperan dalam pengaturan proses homeostasis energi, yaitu suatu proses yang membutuhkan keseimbangan antara asupan energi (asupan makanan) dan pengeluaran energi (metabolisme dan olahraga), serta ukuran cadangan energi dalam tubuh (massa lemak).

Meskipun telah banyak perhatian yang diberikan pada /eptin (sekresi lemak dalam tubuh) sebagai pengatur selera makan dan metabolisme, tetapi terdapat beberapa komponen lain yang berperan melalui otak di bagian hipotalamus (arcuate nucleus), misalnya hormon insulin yang bekerja mengatur bobot badan melalui otak. Reseptor insulin terdapat di seluruh bagian otak, tetapi penelitian lain mengatakan bahwa aksi hormon leptin dalam menekan selera makan secara langsung terjadi di arcuate nucleus. Pemberian insulin ke dalam otak dekat arcuate nucleus mampu menghambat produksi hormon neuropeptide Y yang bekerja menstimulasi selera makan.

Obesitas terjadi karena pembesaran sel lemak sedangkan proses perjalanannya akibat peningkatan sekresi faktor¬-faktor yang berhubungan dengan pembesaran lemak. Terdapat beberapa peptida dan hasil metabolisme yang diproduksi dan disekresi oleh sel lemak. Pada saat sel lemak membesar maka peptida-peptida ini diproduksi dalam jumlah besar, kecuali adiponektin yang sekresinya berbanding terbalik dengan ukuran sel lemak.

Produk-produk sekresi sel lemak dan peningkatan massa lemak bertanggung jawab terhadap penyakit metabolik, seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, rematik, dan beberapa jenis kanker. Teknik pengobatannya melalui pengaturan keseimbangan antara asupan dan pengeluaran energi. Karena itu, berdasarkan faktor-faktor di atas dapat disimpulkan bahwa obesitas dikatakan sebagai suatu penyakit. Berikut beberapa penyakit yang diakibatkan oleh kegemukan.

A. Diabetes Melitus

Diabetes melitus merupakan jenis penyakit yang berhubungan dengan metobolisme, akibat menurunnya hormon insulin yang diproduksi kelenjar pankreas. Penurunan hormon insulin mengakibatkan semua gula (glukosa) yang dikonsumsi tubuh tidak dapat diproses secara sempurna sehingga kadar gula di dalam darah meningkat. Dalam keadaan normal, gula yang masuk ke dalam tubuh akan diproses oleh hormon insulin dan disimpan menjadi cadangan energi tubuh. Insulin adalah salah satu hormon di dalam tubuh manusia yang dihasilkan atau diproduksi oleh sel beta pulau Langerhans. Kelenjar ini terletak di dalam rongga perut bagian atas (di belakang lambung). Insulin merupakan suatu polipeptida (protein).

Dalam keadaan normal, jika kadar glukosa darah naik maka kelenjar pankreas akan mengeluarkan insulin ke dalam aliran darah. Selanjutnya insulin disalurkan ke reseptor organ tubuh oleh darah. Disalurkan ke dalam hati sebesar 50%, ginjal sekitar 10-20%, serta sel darah, otot, dan jaringan lemak sekitar 30%. Jika kadar insulin cukup atau fungsinya tidak terganggu maka kelebihan gula di dalam darah akan segera diubah dan disimpan atau digunakan untuk metabolisme tubuh.

Gula darah merupakan bahan bakar utama yang akan diubah menjadi energi. Kadar gula darah akan merangsang sel beta pulau Langerhans untuk mengeluarkan insulin. Gula dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel-sel jaringan tubuh lainnya, seperti otot dan jaringan lemak sebelum ada hormon insulin. Dengan kata lain, insulin merupakan kunci untuk membuka pintu sel jaringan, memasukkan gula ke dalam sel, dan menutup pintu kembali. Selanjutnya, gula dibakar menjadi energi yang berguna untuk beraktivitas di dalam sel. Meskipun insulin telah diproduksi dalam cukup, bisa saja terjadi ketidakstabilan gula dalam darah jika terjadi kerusakan reseptor insulin dalam organ hati dan jaringan.

Ada beberapa pendapat yang merumus¬kan faktor penyebab terjadinya diabetes melitus, di antaranya faktor keturunan, virus dan bakteri, beberapa bahan toksik atau beracun, penyakit yang berhubungan dengan nutrisi, serta adanya penyakit lain. Seperti yang sedang kita bahas sekarang, obesitas atau kegemukan dapat menjadi faktor pencetus terjadinya diabetes. Mari kita ingat kembali bahwa obesitas terjadi akibat adanya pembesaran lemak di dalam tubuh, selanjutnya lemak tersebut akan mengeluarkan beberapa zat peptida (protein) dan asam lemak bebas (free fatty acid atau FFA) yang sangat memengaruhi proses metabolisme di dalam tubuh.

Saat sel lemak membesar maka peptida¬peptida diproduksi dalam jumlah banyak. Peningkatan pelepasan FFA Bari sel lemak yang membesar dapat meningkatkan asupan lemak ke dalam hati dan jaringan perifer. Peningkatan jumlah FFA dapat mengurangi penggunaan glukosa oleh jaringan melalui mekanisme yang masih diperdebatkan. Pada keadaan tertentu, konsekuensi peningkatan asupan asam lemak ini menyebabkan penurunan penyerapan insulin oleh hati (50, insulin dari pankreas yang ditranspor ke hati). Alhasil, peningkatan insulin pada sirkulasi perifer tidak dapat dihindarkan.

Asam lemak FFA bisa juga meningkatkan lemak yang disimpan dalam hati dan berperan pada perkembangan resistensi insulin. Peningkatan FFA yang masuk ke dalam otot dapat meningkatkan trigliserida otot yang berperan pada perkembangan resistensi insulin di jaringan tersebut. Pada akhirnya akan terjadi peristiwa peningkatan glukosa di dalam darah. Gejala-gejala yang terjadi pada penderita diabetes sangat bervariasi. Gejala umum yang biasa dirasakan adalah sering buang air kecil terutama pada malam hari (poliuria), sering haus (polidipsia), dan sering lapar (polifagia). Hal lain yang sering menyebabkan penderita diabetes datang ke dokter antara lain kelainan kulit seperti gatal yang tak kunjung sembuh, keputihan, kesemutan, tubuh menjadi lemah, cepat lelah, infeksi saluran kemih, impotensi pada penderita yang cukup kronis, dan gangguan penglihatan.

Berikut pengelompokan diabetes berdasarkan gejalanya.
1. DM tipe 1 atau DMTI (Diabetes Melitus Tergantung Insulin).
2. DM tipe 2 atau DMTTI (Diabetes Melitus Tidak Tergantung Insulin).
3. DMTM (Diabetes Melitus Terkait Malnutrisi).
4. Diabetes melitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom tertentu.

Obesitas atau kegemukan lebih sering menyebabkan terjadinya penyakit diabetes melitus tipe 2. Berdasarkan statistik populasi WHO, sebanyak 40-60% pasien obesitas akan berkembang menjadi penderita diabetes melitus tipe 2 dan memiliki tekanan darah tinggi. Sementara itu, 60-90% individu dengan diabetes melitus tipe 2 pernah mengalami obesitas. Beberapa parameter yang dapat digunakan untuk mengetahui seseorang menderita diabetes antara lain jika kadar glukosa darah puasa lebih dari 126 mg/dL atau kadar glukosa 2 jam setelah minum larutan glukosa 75 gram menunjukkan kadar gula darah lebih dari 200 mg/dL.

Tahukah Anda?
Penegakan Diagnosis Diabetes Melitus
Diagnosis diabetes melitus dapat ditegakkan jika terdapat gejala khas beserta keluhan-keluhan diabetes dan pemeriksaan gula darah sewaktu lebih besar atau sama dengan 200 mg/dL serta kadar gula darah puasa sama atau lebih dari 126 mg/dL pada 2 kali pemeriksaan pada saat yang berbeda.

B. Penyakit Jantung

Di negara-negara Barat lebih dari 50% kematian disebabkan oleh penyakit kardiovaskular. Sementara itu, peningkatan obesitas di seluruh dunia akan meningkatkan terjadinya penyakit kardiovaskular dan menjadi penyebab kematian global terburuk pada abad ke-21. Jantung merupakan organ tubuh yang berfungsi untuk memompadan mengedarkan darah ke seluruh bagian tubuh. Terdiri dari serambi jantung (atrium) kanan dan kiri serta bilik jantung (ventrikel) kanan dan kiri. Keempat rongga jantung masing-masing dibatasi oleh dinding yang terdiri dari jaringan otot yang dinamakan miokard. Jaringan yang melindungi rongga jantung, terutama miokard selalu memerlukan oksigen dan zat makanan agar dapat melakukan fungsinya dengan baik.

Zat makanan yang diperlukan oleh lapisan miokard terdapat di dalam darah yang mengalir melalui pembuluh koroner, set, cabang-cabangnya yang terjalin di dalam dinding rongga jantung. Jika pembuluh darah ini terganggu mengakibatkan terjadinya gangguan terhadap kegiatan, kekuatan, dan kelangsungan hidup jantung sebagai organ. Alhasil, dapat menyebabkan perasaan tidak enak dan sakit terutama di daerah jantung.

Proses yang sering terjadi acialah atero¬sklerosis atau keadaan lapisan dinding pembuluh darah koroner dilapisi massa berisi kolesterol (ateroma, Keadaan ini menyebabkan pembuluh darah kaku dan keras sehingga terjadi penyempitan saluran pembuluh darah. Oksigen dan zat makanan yang seharusnya disalurkan menjadi terhambat. Kekurangan suplai darah ke jaringan (iskemia) ditandai dengan rasa nyeri di dinding rongga jantung atau dada sebelah kiri. Rasa nyeri yang terjadi akibat iskemia di dinding rongga jantung terkenal dengan nama angina pectoris atau perasaan seolah – ¬olah dada terasa terkekang, tertimpa bencia berat sehingga sangat sukar bernapas.

Tingkatan terberat penyakit jantung koroner ketika terjadi miokard infark akut yang disebabkan adanya cabang pembuluh darah mendadak tertutup sama sekali. Hal ini biasa terjadi karena acianya perdarahan di atherom yang kemudian membeku di dalam rongga pembuluh darah sehingga menghentikan aliran darah ke bagian dinding jantung. Akibatnya suplai oksigen dan zat makanan untuk memelihara kehidupan akan terhenti dan terjadi kerusakan jaringan. Kerusakan jaringan yang diakibatkan terhentinya aliran darah dinamakan infark dan jaringan yang rusak terutama otot dinding jantung dinamakan miokard infark.

Berikut penyebab risiko tinggi terjadinya penyumbatan dan serangan jantung:
– Tingginya kadar kolesterol dan lemak dalam darah. Tekanan darah tinggi atau hipertensi.
– Diabetes atau kencing manis.
– Obesitas atau kegemukan.
– Kurangnya aktivitas fisik (kurang gerak badan). Stres atau ketegangan batin.
– Merokok.
– Faktor keturunan.

Obesitas merupakan akibat logis adanya peningkatan sosial ekonomi yang tidak terkendali. Apalagi jika pola hidup sebelumnya serba kekurangan dan keterbatasan. Akibat obesitas ditambah dengan pola hidup merokok dan menderita penyakit diabetes mempermudah seseorang terserang aterosklerosis.

C. Hipertensi

Hipertensi merupakan komplikasi obesitas yang paling sering terjadi. Meskipun mekanisme kelebihan penyimpan¬an lemak dapat menyebabkan hipertensi banyak dibicarakan, tetapi beberapa data menunjukkan bahwa peningkatan produksi angiotensin (AGT) oleh adiposa dapat berkontribusi pada peningkatan tekanan darah pada pasien obesitas.

Peningkatan kerja AGT dalam jaringan lemak dapat menyebabkan beberapa konsekuensi, seperti pembesaran sel lemak, pembesaran hasil sekresi sel lemak, peningkatan produksi AGT dari jaringan lemak, peningkatan konsentrasi AGT dalam darah, dan peningkatan tekanan darah. Keadaan ini biasanya tidak berdiri sendiri, tetapi bersamaan dengan gangguan metabolisme seperti kadar kolesterol dan trigliserida yang tinggi. Kejadian ini sangat terkait dengan terbentuknya plak lemak di dinding pembuluh darah yang menyebabkan sempitnya pembuluh darah. Alhasil, tekanan darah akan meningkat.

D. Kanker

Kanker, suatu penyakit yang masih menyimpan banyak tanda tanya. Meskipun para ahli secara terus-menerus mencari dan meneliti penyebab maupun penanganannya, tetapi hasilnya belum bisa terkuak secara tuntas. Itulah sebabnya informasi mengenai kanker masih terus beredar, baik melalui internet, buku-buku ilmu pengetahuan, media massa, dan media komunikasi lain. Deteksi dini penting dilakukan karena sebenarnya proses terjadinya kanker memerlukan proses.

Penyakit kanker tidak terjadi secara tiba-tiba sehingga jika ditemukan pada awal proses pertumbuhannya. Diharapkan pengobatannya masih dilakukan dan angka harapan hidup sesudah pengobatan semakin tinggi. Pola makan yang tidak seimbang menjadi faktor risiko terjadinya kanker. Masyarakat Indonesia mulai mengubah pola makannya seiring dengan semakin gencarnya informasi atau promosi berbagai makanan berkadar lemak tinggi yang menyebabkan kanker. Perubahan pola makan tradisional menjadi pola modern dengan diet tinggi kalori ataulemak. Padahal, diet tinggi lemak secara langsung dapat meningkatkan risiko terjadinya beberapa jenis kanker.

Secara langsung, lemak yang kaya akan kalori secara otomatis akan meningkatkan asupan kalori yang kita butuhkan. Jika hal ini diikuti dengan penurunan aktivitas fisik, maka kalori yang masuk dan keluar menjadi tidak seimbang. Kalori yang masuk ke dalam tubuh semakin banyak sehingga tubuh menjadi gemuk. Kebiasaan mengonsumsi makanan instan, makanan yang diawetkan, dan mengonsumsi alkohol menjadi bagian faktor risiko terjadinya kanker.

Kebiasaan mengonsumsi ikan asin dalam waktu lama secara terus-menerus mulai dari masa anak-anak merupakan mediator utama yang dapat mengaktifkan virus Epstein Barr yang memegang peranan penting timbulnya kanker nasofaring. Perlu diingat bahwa kejadian ini bukan sesederhana dan bersifat tunggal seperti teori di atas, melainkan didukung faktor-faktor lain. Faktor-faktor lain yang diduga turut berperan menjadi mediator adalah konsumsi taoco dan daging asap dengan frekuensi sering.

Selain itu, zat karsinogenik (zat pemicu tumbuhnya sel kanker) bisa ditemukan pada makanan yang mengalami pengolahan kurang tepat, misalnya pemanasan dengan suhu terlampau tinggi dan lama (menimbulkan zat trans-fatty acid), cara penggorengan yang berlebihan, serta penggunaan minyak goreng yang berulang kali (menimbulkan radikal bebas peroksida dan epioksida). Makanan yang disebut terakhir umumnya diperoleh dari jenis goreng-gorengan (jajanan). Hindari juga mengonsumsi makanan yang telah busuk, seperti kacang tanah yang busuk atau keju yang telah kadaluarsa.

E. Rematik

Penyakit rematik jarang menyebabkan kematian, tetapi cukup membuat perasaan kesal karena kedatangannya secara tiba-tiba saat seseorang sedang beraktivitas. Rematik secara sederhana bisa diartikan sebagai kondisi kerusakan sendi akibat tidak lancarnya proses metabolisme secara terus-menerus dalam sendi tersebut. Para ahli kedokteran memasukkan penyakit ini dalam kelompok penyakit sendi atau rematologi. Rematik sering disebut dengan keadaan yang selalu disertai rasa nyeri dan kaku pada sistem tulang otot (muskuloskeletal) dan terjadinya penyakit pada jaringan ikat (connective tissue). Dapat juga dikatakan sebagai penyakit yang menyerang sendi, otot, dan jaringan tubuh.

Gejala penyakit rematik tidak hanya satu macam, tetapi bisa bermacam-macam. Mulai dari nyeri sendi akibat mekanis, radang, kaku sendi akibat desakan suatu cairan di sekitar tubuh yang mengalami peradangan, dan bengkak sendi yang ditandai dengan memerahnya kulit. Selain itu, gangguan fungsi sendi sehingga sendi tidak bisa digerakkan, sendi tidak stabil sehingga timbul bunyi saat digerakkan, dan terjadi pengecilan otot atau atropi yang berakhir pada gangguan fungsisendi. Beban berat dalam tubuh karena kegemukan dapat menyebabkan gejala-gejala di atas. Terutama sendi-sendi pada kaki serta pergelangan kaki dan lutut karena sendi¬sendi tersebut berfungsi untuk menopang tubuh.

Selain itu, pola makan yang tidak terkontrol dapat menyebabkan keluhan nyeri sendi di daerah lain karena kadar asam urat yang meningkat. Asam urat merupakan hasil metabolisme purin yang mengalami proses biokimia menjadi oksida purin dan menghasilkan produk asam urat dengan bantuan suatu enzim. Makanan yang mengandung purin tinggi merupakan faktor pencetus terjadinya nyeri sendi.

Berikut beberapa makanan yang mengandung purin tinggi:
1. Semua makanan yang mengandung alkohol, seperti bir, anggur, sake, atau tape.
2. Jeroan termasuk otak, ginjal, dan hati.
3. Kacang-kacangan, seperti kacang hijau, kacang kedelai, dan hasil olahannya.
4. Makanan laut, seperti cumi, kerang, dan ikan laut lainnya.
5. Makanan yang diawetkan, seperti kornet dan sardine.
6. Buah-buahan, seperti durian dan avokad.
7. Jengkol, petai, dan melinjo.
8. Beberapa sayuran tertentu, seperti bayam, asparagus, dan kernbang kol.

Dalam keadaan sehat makanan-makanan tersebut sangat berguna bagi tubuh, tetapi pada penderita atau calon panderita asam urat yang meningkat harus menjadi perhatian khusus. Bukan berarti tidak boleh mengonsumsi sama sekali, tetapi dikonsumsi dengan porsi dan frekuensi tertentu. Selain itu, lemak ternyata cenderung menghambat pembuangan asam urat dari dalam tubuh. Karena itu, makanan yang banyak mengandung lemak, seperti gorengan, mentega, atau kaldu kental harus dihindari. Demikian juga dengan makanan atau minuman beraikohol yang dapat meningkatkan produksi asam laktat dalam darah sehingga menghambat pengeluaran asam urat melalui urine.

F. Gangguan Metabolisme Lemak

Gejala gangguan metabolisme lemak memang tidak tampak. Itulah yang menyebabkan seseorang dengan risiko kolesterol tinggi harus rajin memeriksakan darah ke laboratorium. Sementara itu, usaha perbaikan bisa dijalan¬kan melalui diet rendah lemak dan rajin berolahraga. Sebenarnya lemak di dalam darah merupakan suatu zat yang dibutuhkan oleh tubuh. Fungsi lemak dalam tubuh adalah untuk merawat membran sel, membuat vitamin D, berperan dalam penyusunan hormon-hormon steroid termasuk hormon seks dan kortikosteroid, serta pembuatan asam empedu yang digunakan untuk mengemulsi lemak.

Lemak tubuh dimetabolisis oleh hati dan usus halus, tetapi “rumahnya” ada di dalam darah. Lemak di dalam darah yang bermanfaat biasa disebut high density lipoprotein (HDL) atau lebih dikenal dengan istilah kolesterol baik. Sementara itu low density lipoprotein (LDL) dikenal dengan sebutan kolesterol jahat yang bersifat labil. Ada lagi yang disebut chilomicron dan very low density lipoprotein (VLDL). Keempat zat ini merupakan rangkaian lipoprotein yang kita sebut kolesterol.

Masing-masing jenis lipoprotein tersebut mempunyai fungsi yang berbeda. Chilomicron bertugas mengangkut kolesterol yang baru saja dibentuk di dalam usus halus untuk dibawa ke limpa. VLDL bertugas membawa kolesterol yang dikeluarkan dari hati ke jaringan otot untuk disimpan sebagai energi sedangkan LDL mengangkut kolesterol di dalam plasma darah untuk keperluan pertukaran zat. Sayangnya, partikel-partikel LDL mudah menempel di dinding pembuluh koroner dalam menjalankan tugasnya. Sementara HDL berperan menangkap kolesterol bebas dari sel-sel membran yang mati untuk diangkut kembali ke dalam hati. Karena itu, HDL dikenal dengan sebutan kolesterol baik.

Rasio atau perbandingan kolesterol total dan HDL dalam darah orang sehat tidak boleh lebih dari 4,5. Jika Anda terlalu banyak mengonsumsi makanan berlemak, maka keseimbangan tersebut bisa terganggu. Ketidakseimbangan lemak di dalam darah bisa mengakibatkan keadaan fatal. Jikaterurai di pembuluh darah, LDL akan mempersempit pembuluh darah sehingga tekanan darah bisa naik, mengakibatkan stroke, bahkan terjadi serangan jantung.

Uraian di atas sangat jelas bahwa faktor pola makan sangat berperan dalam pembentukan lemak di dalam tubuh. Kandungan lemak didalam daging, kuning telur, santan, kacang tnah, keju, dan cokelat sangat memengaruhi kadar kolestrol dalam darah jika dikonsumsi terus – menerus tanpa diimbangi makanan berserat, seperti sayuran dan buah. Kalori tinggi dalam makanan siap saji dituding juga menjadi pencetus tingginya kadar kolestrol dalam darah.

Sumber : Buku “Diet Aman & Sehat dengan Herbal” Karya dr. Prapti Utami

Pencarian dari Google:

Tolong Bagikan Artikel Ini Jika Menurut Anda Bermanfaat...
  • Twitter
  • Facebook
  • email
  • vuible
  • StumbleUpon
  • Delicious
  • Google Reader
  • LinkedIn
  • More

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *