Mengenal Lemak Secara Lebih Dekat

lemak

Lemak, dibutuhkan oleh tubuh. Sumber foto : google

Lemak tak selamanya menjadi musuh bagi tubuh, tergantung dari jenisnya. Karena itu, kenali lemak tubuh lebih dekat dan distribusi penyimpannya di dalam tubuh.

Distribusi Lemak Di Dalam Tubuh

A. Mengenal Lemak Lebih Dekat

Lemak merupakan salah satu dari tiga zat gizi utama dalam makanan bersama dengan protein dan karbohidrat. Semua kalori dari makanan dihasilkan oleh ketiga molekul tersebut. Namun, lemak merupakan sumber energi paling besar dalam makanan. Protein dan karbohidrat mengandung 60 kalori per satu sendok teh. Sementara itu, lemak mengandung kalori lebih dari dua kali lipat, sekitar 135 kalori per satu sendok teh. Kondisi ini menjadikanya sebagai sumber energi yang baik sekaligus menjadi sumber energi yang harus digunakan secara bijaksana.

Jika diperlukan, sebagian besar dari kita dapat bertahan hidup selama 30 – 40 hari dengan hanya minum air. Mengapa? Karena kita menggunakan cadangan lemak yang ada di dalam tubuh.

Sering kali kita pun membuat kesalahan. Saat menjalani uapaya menghindari lemak, justru kita memenuhi kantong belanja dengan kue, donat, keripik, dan makanan beku dari jenis rendah lemak. Tanpa disadari pilihan “bagus” ini memiliki kalori yang sama banyaknya bahkan lebih banyak dari biasanya. Intinya, kita hanya mengganti makan sumber karbohidrat. Pemahaman yang salah tersebut justru membuat kita makan sesuka hati karena dianggap sebagai makanan rendah lemak. Agar tepat dalam memilih lemak, kita perlu mengetahui beberapa informasi seputar lemak.

Sebagian besar masyarakat cenderung beranggapan bahwa makanan hanya mengandung satu jenis lemak. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Lemak dalam makanan terbagi menjadi lemak tidak jenuh tunggal ( monounsaturated), lemak tidak jenuh jamak (polyunsaturated), dan lemak jenuh (saturated).

Cara mudah untuk mengenali lemak jenuh adalah dari wujudnya yang padat pada suhu kamar. Mentega dan lemak dalam daging merupakan contoh lemah jenuh. Jenis lemak yang baik adalah lemak tidak jenuh tunggal (misal minyak zaitun) serta lemak tidak jenuh jamak (seperti minyak jagung dan sebagian besar minyak dari sayuran yang berwujud cair pada suhu kamar).

Ketiga jenis asam lemak biasanya terdapat dalam sebagian besar makanan. Misalnya minyak zaitun dianggap sebagai lemak tidak jenuh tunggal, tetapi mengandung sedikit lemak tidak jenuh jamak dan lemak jenuh. Salmon merupakan sumber lemak tidak jenuh tunggal dan sedikit mengandung lemak jenuh. Kategori lemak dalam makanan didasarkan pada kandung jenis lemak yang paling dominan di dalamnya.

B. Lemak, Dibutuhkan oleh Tubuh Kita

Istilah lemak baik atau buruk sering kali dipakai sebagian besar masyarakat untuk memberikan keterangan berkaitan dengan hasil laboratorium. Kenyataanya, lemak bukanlah musuh bahkan lemak merupakan teman dalam berbagai hal. Lemak melindungi sebagian organ dalam tubuh dan melindungi tubuh dari perubahan suhu yang drastis. Kaum pria menyimpan lebih sedikit lemah tubuh ( sekitar 16% dari bobot tubuh) dibandingkan dengan wanita ( menyimpan 25%).

Bobot tubuh kita dalam bentuk lemak. Karena itu, jika kita mengonsumsi makanan lebih banyak dari pada kalori yang digunakan dalam kegiatan sehari – hari, maka kelebihan tersebut akan disimpan sebagai lemak tubuh seperti halnya lemak dari makanan yang kita konsumsi. Dahulu kegemukan merupakan suatu kebanggaan dan lambang kesuburan, tetapi dalam perkembangan selanjutnya kegemukan selalu dihubungkan dengan aktor risiko terjadinya berbagai penyakit.

Women’s Hospital dan Harvard Scholl telah memeriksa lebih dari 120.000 orang paruh baya dan menemukan bahwa orang yang memiliki bobot badan berlebihan berisiko. Lebih besar untuk mengidap penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes melitus tipe 2, stroke, kanker usus, dan batu empedu dibandingkan dengan mereka yang lebih kurus.

Dr.H.R. Rachmad Soegih, ahli gizi dari FKUI menyatakan bahwa jantung akan ditutupi oleh lapisan lemak saat tubuh dalam keadaan gemuk. Semakin tebal lemak yang menyumbat, maka semakin tinggi risiko terjadinya penyakit degeneratif. Lemak juga tersebar di organ – organ lain, seperti perut, pinggang, dan melapisi hati sehingga timbul perlemakan hati. Selanjutnya, lemak tubuh akan melapisi organ dalam serta menyebabkan peningkatan asam lemak bebas (free fatty acid, FFA), leptin, dan produk metabolisme jaringan lemak lainnya.

Selain itu, lemak di dalam tubuh memiliki kecepatan lipolisis (memecah diri) yang tinggi. Produk-produk tersebut disalurkan melalui vena porta langsung menuju hati sehingga terjadi peningkatan FFA dan trigliserida serta akan menambah penumpukan lemak. Kejadian ini menyebabkan peningkatan resistensi insulin hepatik dan peningkatan sintesis partikel kolesterol. Sementara itu, organ hati melepaskan sejumlah besar FFA ke sirkulasi perifer yang akan berkontribusi pada resistensi insulin di otot, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui peningkatan trigliserida di otot.

Sumber:

Buku “Diet Aman & Sehat dengan Herbal” karya dr. Prapti Utami

Pencarian dari Google:

Tolong Bagikan Artikel Ini Jika Menurut Anda Bermanfaat...
  • Twitter
  • Facebook
  • email
  • vuible
  • StumbleUpon
  • Delicious
  • Google Reader
  • LinkedIn
  • More

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *