3 Cara Menilai Bobot Badan

 

Menilai Bobot Badan

Ada 3 cara menilai bobot badan : IMT, Rumus Brocha, dan Rumus Key. Sumber Foto : Google

Menilai Bobot Badan Ideal

Untuk mengetahui adanya obesitas atau tidak perlu dilakukan pengukuran status gizi. Berikut beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengukur status gizi.

1. Indeks Massa Tubuh (IMT)

Indeks Massa Tubuh (IMT) atau di kenal dengan Body Mass Index (BMI) merupakan penilaian bobot badan yang banyak digunakan. Pasalnya, penilaian menggunakan IMT telah memperhitungkan unsur kesehatan. Penilaian IMT sangat cocok diterapkan bagi orang – orang yang ingin mengetahui kondisi bobot badanya ditinjau dari segi kesehatan. Metode ini digunakan juga untuk mengukur tingkat kegemukan seseorang atau menentukan apakah orang tersebut mengalami obesitas atau tidak.

Pengukuran IMT dilakukan dengan membagi bobot badan (kilogram) dengan kuadrat tingi badan (meter). Penilaian ini hanya berlaku bagi orang dewasa berumur 20 – 65 tahun. Istilah “Normal” Overwight”, dan “obese” berbeda – beda di setiap negara dan budaya. Karena itu, WHO menetapkan suatu pengukuran atau klasifikasi obesitas yang tidak tergantung pada bias – bias kebudayaan. Berikut pembagian IMT ideal berdasar WHO.

 

Ideal Kelebihan Bobot Badan
( Overweight)
Obesitas

Nilai IMT

19 – 24 ( Perempuan)

20 – 65 ( Laki – laki )

25 – 30

>30

 

Contoh Perhitungan IMT

Seorang laki – laki dengan tinggi badan 160 cm mempunyai bobot badan 55 Kg, maka nilai IMT – nya :

55
———-
1,6 X 1,6

= 21,48 (ideal)


Tahukah Anda?
IMT tidak bisa digunakan pada anak – anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, wanita hamil dan menyusui, serta atlet
(orang yang sangat berotot)

IMT bisa juga digunakan untuk menentukan seberapa besar seseorang dapat terkena risiko penyakit tertentu yang disebabkan oleh bobot badanya. Sesorang dikatakan obesitas dan membutuhkan  pengobatan jika memiliki nilai IMT di atas 30. Dengan kata lain orang tersebut memiliki kelebihan bobot badan sebanyak 20%.

 

Kategori IMT (Kg/M2) Risiko Komorbiditas
Underweight < 18,5 Kg/m2 Rendah
(tetapi risiko terhadap masalah – masalah klinis lain meningkat)
Batas Normal 18,5 – 22,9 Kg/m2 Rata – rata
Overweight > 25 Kg/m2
Pre – obese 25 – 29,9 Kg/m2 Meningkat
Obese I 30 – 34,9 Kg/m2 Sedang
Obese II 35 – 39,9 Kg/m2 Berbahaya
Obese III > 40 Kg/m2 Sangat berbahaya

 

Para ahli sedang memikirkan untuk membuat klasifikasi IMT tersendiri bagi penduduk Asia. Hasil studi di Singapura memperlihatkan bahwa orang Singapura yang memiliki nilai IMT 27 sampai dengan dengan 28 mempunyai lemak tubuh yang sama dengan orang – orang kulit putih dengan IMT 30. Pada orang India, peningkatan IMT dari 22 menjadi 24 dapat meningkatkan prevalensi terjadinya penyakit diabetes melitus sebanyak dua kali lipat. Prevalensi akan naik menjadi tiga kali lipat saat nilai IMT mencapai 28.


Klasifikasi Bobot Badan Berdasarkan IMT Penduduk Asia

Kategori IMT (Kg/m2) Risikomorbiditas
Underweight < 18,5 Kg/m2 Rendah (tetapi risiko terhadap masalah – masalah klinis lain meningkat)
Batas Normal 18,5 – 22,9 Kg/m2 Rata – rata
Overweight > 23 Kg/m2
At Risk 23 – 24,9 Kg/m2 Meningkat
Obese I 25 – 29,9 Kg/m2 Sedang
Obese II > 30 Kg/m2 Berbahaya

Sumber : IOTF, WHO 2000

2. Rumus Brocca

Rumus Brocca sangat popular di kalangan orang awam dibandingkan lain. Selain mudah dimengerti, perhitungan rumus Brocca juga mudah diingat. Rumus perhitungan bobot badan ideal menurut Brocca sebagai berikut.

Bobot Badan Normal  = (TB – 100)

Bobot Badan Ideal     = (TB – 100) – [10% (TB – 100)

TB  = Tinggi Badan

BB  = Bobot Badan

Contoh Perhitungan

Bapak X memiliki tinggi badan 160 cm. maka bobot badan normalnya adalah 160 – 100 = 60kg.  sedangkan berat badan ideal orang tersebut adalah 60 – 6 = 54 Kg

Apabila bobot badan melebihi 15% dari bobot badan normal (TB – 100) maka dapat dikategorikan dalam kegemukan. Rumus Brocca sebenarnya lebih cocok diterapkan untuk usia remaja dan dewasa muda. Jika diterapkan pada kelompok usia yang lebih tua maka sering kurang sesuai karena banyak faktor lain yang perlu diperhitungkan selain tinggi dan bobot badan.

3. Rumus Key

Rumus Key juga mudah diikuti. Hanya dengan cara mengkuadratkan tinggi badan dalam meter lalu mengalikan dengan faktor pengali yang telah ditentukan.

Bobot Badan Ideal = Tinggi badan ( meter )2 x 22

Misalnya seseorang dengan tinggi badan 160 cm akan mempunyai tubuh ideal sebesar :

1,6 x 1,6 x 22 = 56,4kg

Perhitungan lebih rinci untuk rumus Key dapat dilakukan dengan membedakan faktor pengalinya yaitu 22,4 pada pria dan 20,9 pada wanita

Contoh perhitungan

Wanita dengan tinggi 160 cm memiliki bobot ideal sebesar : 1,6 x 1,6 x 20,9 = 53,5 kg

Pria dengan tinggi 160 cm memiliki bobot ideal sebesar 1,6 x 1,6 x 22,4 = 57,3 kg

Masa remaja merupakan waktu maksimal untuk proses perkembangan tinggi badan sehingga perkembangan tinggi badannya lebih cepat dibandingkan perkembangan bobot badan atau pelebaran tubuh. Dengan demikian, sesorang pada umur remaja cenderung mempunyai bobot badan kurang dari bobot ideal. Hal ini tidak perlu dirisaukan selama yang bersangkutan mengonsumsi bahan makanan  dalam jumlah cukup.

Saat remaja, bahan makanan yang diutamakan untuk dikonsumsi adalah sumber makanan yang digunakan untuk keperluan penambahan tinggi badan. Setelah tinggi badan mencapai kondisi maksimal, maka bahan makanan dapat dipergunakan untuk pelebaran tubuh. Karena itu, jika bahan makanan yang dikonsumsi setiap hari dalam kondisi yang berlebihan maka tubuh akan memanfaatkannya  untuk pertumbuhan tinggi maupun pelebaran tubuh.

Dalam kondisi seperti ini para remaja disarankan untuk banyak melakukan gerakan. Tujuannya agar proses pelebaran tubuh ke samping dapat dihambat sehingga tubuh tidak terlihat bertambah gemuk. Umunya, anak – anak yang diberi makanan dengan nutrisi yang baik dan banyak bergerak lebih cepat tinggi dibandingkan dengan anak – anak yang diberi makanan baik, tetapi kurang bergerak.

Sumber : Buku “Diet Aman & Sehat dengan Herbal” Karya dr. Prapti Utami

Pencarian dari Google:

Tolong Bagikan Artikel Ini Jika Menurut Anda Bermanfaat...
  • Twitter
  • Facebook
  • email
  • vuible
  • StumbleUpon
  • Delicious
  • Google Reader
  • LinkedIn
  • More

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *